ARTIKELArtikel GuruParenting

Problematika Pendidikan Anak Usia Dini (Parenting 006)

Mengenal Problematika Pendidikan

Problematika Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak di setiap tahapan pasti memiliki permasalahan yang beranekaragam. Permasalahan tersebut saling berhubungan dan mirip. Permasalahan yang dihadapi di suatu tahapan terkadang akan muncul di tahapan yang lain. Permasalahan yang menjadi topik pembahasan adalah permasalahan global dan yang sering terjadi secara umum.

Permasalahan-permasalahan ini bukan berarti hal yang perlu ditakuti atau dijadikan beban, justru permasalahan tadi bisa menjadi nilai plus anak saat bisa diarahkan dan dikembangkan.

Di antara permasalahan yang sering di hadapai saat mendidik anak usia dini sebelum tamyiiz adalah sebagai berikut

Pertama : Suka Dusta

Terkadang anak usia ini ingin mewujudkan tujuan pribadinya atau ingin mencari solusi atas perbuatan negatif yang ia lakukan, namun karena ketidakmampuan anak mencari solusi yang baik, akhirnya anak lebih memilih dusta karena lebih mudah dan cepat.

Ketidakmampuan anak mencari solusi yang baik dipengaruhi oleh daya pikir yang belum optimal membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, oleh karena itu dusta anak kecil tidak bisa disamakan dusta orang dewasa, hal ini karena dusta anak kecil lebih dekat kepada kesalahan atau ketidakmampuan anak tersebut.

Saat anak berbicara dusta, maka orang tua seyogyanya menjelaskan kepada anak bahwa dusta adalah perbuatan jelek. Tentunya dalam menjelaskan menyesuaikan dengan tingkat pemahaman anak. Menjelaskan kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami. Tidak dibenarkan orangtua terlalu menakuti nakutin anak karena berdusta atau menghukum terlalu keras karena terkadang kedustaan anak bukan disengaja, akan tetapi anak salah dalam menceritakan karena kurangnya memahami rincian peristiwa yang ia lihat dan saksikan.

Kedua : Melakukan hal sia sia atau merusakan sesuatu barang

Besarnya rasa keingintahuan anak terkadang mendorong anak untuk melakukan hal sia-sia atau merusak barang barang tertentu atau bahkan melakukan  hal hal yang berbahaya untuk dirinya maupun orang lain.

Oleh karena itu, seorang pendidik seharusnya tidak membiarkan anak sendirian di tempat yang ada barang barang penting atau bahaya tanpa pengawasan. Pendidik atau orangtua juga jangan melakukan hal-hal bahaya di depan anak-anak seperti menyalakan korek api atau kompor, ditakutkan anak meniru orangtuanya tanpa mengetahui akan bahayanya perbuatan tersebut. Pendidik atau orang tua jangan memberitahu pasword suatu hal yang berbahaya semisal gadget atau kunci brangkas dan lain  sebagainya.

Seorang pendidik atau orangtua bisa memberikan mainan kepada anak yang bermanfaat, tidak mengotori tempat, dan tidak berbahaya. Di antara contoh mainan yang tepat adalah mainan yang bisa dibongkar dan dipasang. Selain tidak berbahaya, anak anak juga bisa belajar mengembangkan daya pikir mereka.

Ketiga: Membangkang

Terkadang anak susah di atur dan tidak mendengarkan atau tidak mengindahkan arahan orangtua. Terkadang saat meminta sesuatu harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi ia akan menangis sejadi jadinya, mengamuk, memukul-mukul pintu atau meja, menghentak hentakkan kaki pada tanah, atau bahkan merusak barang-barang berharga lainnya.

Yang semakin membuat orangtua kewalahan, justru perbuatan ‘pembangkangan’ anak dilakukan saat banyak tamu atau orang asing di rumah orangtua. Saat anak ‘membangkang’ ia akan mendekati yang dirasa lebih lemah, bisa bapak atau ibu.

Oleh karena itu, hendaknya orangtua atau pendidik, mencari sebab pembangkan anak sebelum mencari solusinya.  Kemungkinan disebabkan karena perlakuan orangtua yang terlalu memanjakan anak, atau karena anak adalah anak lelaki satu satunya, atau anak paling kecil, dan lain sebagainya. Bisa juga disebabkan karena orangtua atau pendidik terlalu sering memenuhi semua keinginan anak tanpa dipilah pilah mana yang bermanfaat dan mana yang belum pada waktunya.

Selain itu, orangtua atau pendidik hendaknya kompak dalam menerapkan peraturan, jangan sampai ayah melarang kemudian sang ibu mengizinkan.

Keempat : Belum mampu menilai sesuatu sesuai porsinya

Penalaran anak pada usia ini masih sangat terbatas, penjelasan panjang lebar belum bisa dipahami dengan baik oleh si anak. Terkadang anak-anak usia ini memanjat lemari yang tinggi, naik ke atap mobil, loncat dari tempat yang tinggi dan perbuatan-perbuatan yang berbahaya lainnya.

Oleh karena itu hendaknya orang tua tidak terburu-buru menghardik atau meluapkan emosinya, tapi hendaknya orangtua mendekati anak dengan lembut, diselamatkan dari tempat yang bahaya dengan penuh kasih sayang, kemudian dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak akan bahayanya perbuatan tersebut.

Ketika orangtua terburu-buru menghardik, bisa saja anak langsung loncat atau lari karena takut kepada orangtua, akhirnya bisa saja jatuh dan membahyakan dirinya sendiri.

Kelima : Egois tinggi dan tidak mau berbagi

Keinginan memiliki suatu hal yang lumrah bagi anak kecil. Justru keinginan anak harus kita kembangkan dengan memberikan suatu hal khusus baginya, sehingga ia belajar memiliki sesuatu dan merawatnya. Yang perlu diwanti-wanti adalah keinginan memiliki milik orang lain. Anak usia ini terkadang belum bisa membedakan mana barang miliknya sendiri dan mana milik orang lain. Maka orangtua mengajrkan kepada anak, jangan sampai memiliki milik orang lain dengan cara-cara terlarang, semisal merampas dengan paksa atau mencuri.

Keinginan anak memiliki milik orang lain terkadang disebabkan oleh orangtua yang terlalu memanjakan anak, orangtua yang tidak sabar karena rengekan anak, sehingga apapun yang diminta pasti diberikan.

Dalam menjelaskan tidak bolehnya memiliki milik orang lain dengan mencuri atau lainnya kepada anak, hendaknya orangtua tidak semata menjelaskan dengan penjelasan panjang lebar, tapi dengan contoh-contoh nyata, semisal saat anaknya kehilangan mainannya, coba disampaikan betapa sedihnya orang lain saat kehilangan mainannya karena dicuri dan contoh-contoh lainnya.

Keenam : Suka berulah

Anak usia ini ingin menunjukkan jati dirinya, namun terkadang caranya salah, semisal mau menang sendiri meskipun ia salah, terlalu buru-buru saat menghadapi suatu masalah, saat bermain dan tidak bisa menyelesaikan permainan iapun melempar permainan dia.

Kebiasaan anak seperti ini jika dibiarkan akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Oleh karena itu,seyogyanya orangtua mengarahkan anaknya agar tidak merusak atau memutuskan suatu hal dengan keputusan yang merugikan atau membahayakan orang lain. Bisa dengan permainan-permainan yang mendidik atau kisah bahayanya membuat kerusakan atau merugikan orang lain.

Ketujuh : Mudah bosan dan tidak sabar

Konsentrasi anak usia ini tidak lebih dari beberapa menit saja. Sehingga saat orangtua atau pendidik menjelaskan panjang lebar ia akan bermain, berbicara dengan temannya, atau berpaling kepada yang lain.

Oleh karena itu, hendaknya orangtua atau pendidik saat menjelaskan suatu hal tidak lebih dari beberapa menit, itupun diselingi dengan suatu hal yang menarik anak, dan menjauhkan dari ha-hal yang bisa mengganggu konsentrasi anak.

Agar anak memperhatikan penjelasan, pendidik bisa mengatur posisi duduk anak, posisi guru atau orang tua, mengelompokkan anak, dan tidak menyepelekan pertanyaan anak saat dijelaskan meskipun terkadang tidak sesuai dengan tema yang dijelaskan.

Demikian beberapa problematika yang sering dihadapi oleh orangtua atau pendidik dalam mendidik anak usia dini sebelum tamyiiz. Wallohu a’lam bishowab. (Ditulis oleh Agus Susehno, Lc)

Related Articles

Tanggapan Anda

Back to top button